Lomba Menyambut Lombok Sumbawa Pearl Festival 2012

Dalam rangka menyemarakkan Lombok Sumbawa Pearl Festival 2012 yang berlangsung dari tanggal 29 Juni sampai dengan 1 Juli 2012, dilaksanakan lomba-lomba, antara lain :
1. Lomba Mewarnai Tingkat SD
2. Lomba Photography
3. Lomba Kreasi Jilbab Mutiara
4. Lomba Cukli

IKUTI LOMBANYA.......DAPATKAN HADIAHNYA.

Lombok Sumbawa Pearl Festival

Lombok Sumbawa Pearl Festival yang merupakan ajang tahunan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam mempromosikan mutiara kepada dunia internasional. Lombok Sumbawa Pearl Festival 2012 dipusatkan di Hotel Lombok Raya Mataram dari tanggal 29 Juni sampai dengan 1 juli 2012 dengan agenda pokok : 
1. Lelang Mutiara 
2. Pemilihan Putri Mutiara 
3. Panen Mutiara 
4. Fashion Show 
5. Pameran Mutiara 

Untuk menyemarakkan event tersebut, juga diadakan lomba-lomba menarik, antara lain : 
1. Lomba Merwarnai Tingkat SD 
2. Lomba Photography 
3. Lomba Kreasi Jilbab Mutiara 
4. Lomba Seni Cukli
5. Dan lain-lain lomba yang menarik.

Tujuan dan Manfaat Lombok Sumbawa Pearl Festival : 
1. Menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan masyarakat terhadap mutiara Indonesia 
2. Mempopulerkan Lombok dan Sumbawa sebagai penghasil mutiara bertaraf internasional 
3. Ajang transaksi mutiara 
4. Menggerakkan kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif melalui aneka kerajinan mutiara dan 
    limbahnya 
5. Menambah event untuk menarik dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke NTB
6. Memberikan informasi kepada wisatawan bahwa perairan dan ekosistem laut di NTB masih 
    terpelihara baik sehingga potensial untuk aktivasi berbagai wisata bahari (Marine Torism)

Istana Tampak Siring


Istana Kepresidenan Tampaksiring berada pada ketinggian lebih kurang 700 meter dari permukaan laut, berlokasi di atas perbuktian di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Pulau Bali. Merupakan satu-satunya istana kepresidenan yang dibangun masa pemerintahan Indonesia yang dibangun pada tahun 1957 - tahun 1960, sepenuhnya ditangani oleh putra-putra Indonesia, atas prakasa Presiden I Republik Indonesia : Soekarno.
Nama Tampaksiring diambil dari dua buah kata bahasa Bali, tampak (bermakna telapak) dan siring (bermakna miring). Menurut legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja yang bernama Mayadenawa. Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah wilayah ini dikenal dengan nama Tampaksiring.
Istana Tampaksiring dibangun secara bertahap, arsiteknya R.M Soedarsono. Pertama kali dibangun adalah Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira pada tahun 1957, dilanjutkan perampungan tahun 1963. Selanjutnya untuk kepentingan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV, di Bali pada tanggal 7 - 8 Oktober 2003, di bangun gedung baru dan merenovasi Balai Wantilan, bangunan pintu masuk tersendiri yang dilengkapi dengan Candi Bentar, Kori Agung, serta Lapangan Parkir berikut Balai Bengongnya.
Istana Tampaksiring difungsikan disamping untuk acara-acara Presiden dan Wakil Presiden dalam hal kepemerintahan dan kenegaraan, juga peruntukan untuk tempat peristirahatan bagi Presiden dan Wakil Presiden peserta keluarga, serta bagi tamu-tamu negara. Menurut catatan, tamu-tamu negara yang pernah berkunjung ke Istana Kepresidenan Tampaksiring, antara lain Presiden Ne Win dari Birma (sekarang Myanmar); Presiden Tito dari Yogoslavia, Presiden Ho Chi Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruschev dari Unit Soviet, Ratu Juliana dari Belanda dan Kaisar Hirohito dari Jepang.
Komplek Istana Kepresidenan Tampaksiring kini terdiri dari lima gedung utama dan satu pendapa. Dua gedung utama diberi nama Wisma Merdeka (1.200 meter persegi) dan Wisma Negara (1.476 meter persegi) yang dipisahkan oleh celah bukit sedalam lebih kurang 15 meter namun terhubung dengan jembatan sepanjang 40 meter, tiga gedung utama yang lainnya diberi nama Wisma Yudhistira, Wisma Bima, dan ruang untuk konferensi, serta Balai Wantilan.